Arsip untuk April, 2008

Full esteem Ahead, By Diana Lomanns

Seandainya saja saya membesarkan ulang anak saya, maka:

Saya akan lebih banyak bermain cat, dan mengurangi main perintah.

Saya akan lebih sedikit mengoreksi, dan lebih banyak mengait-ngaitkan.

Saya akan sedikit menghitung-hitung waktu, dan lebih banyak memperhatikanya.

Saya akan lebih sering jalan-jalan, dan lebih sering bermain layang-layang.

Saya akan mengurangi bersikap serius dan lebih serius bermain-main.

Saya akan lebih sering bermain di lapangan, dan lebih banyak mengamati bintang-bintang.

Saya akan lebih banyak memeluk, dan lebih sedikit membentak.

Saya tidak akan banyak melarang-larang, dan lebih banyak mengiyakan.

Saya akan lebih dulu membangun harga dirinya, sebelum membangun rumah.

Saya akan lebih sedikit mengajarkan cinta akan kekuatan, dan lebih banyak mengajarkan kekuatan cinta.

Komentar bertahan »

Domestik versus Publik

       Satu agenda yang senantiasa menjadi bulan-bulanan kelompok feminisme dalam menghakimi  rendahnya kemampuan kompetitif muslimah dalam memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat adalah dominannya beban  kehidupan domestik yang  harus dipikul oleh muslimah  yang tidak seimbang dengan  luasnya akses publik yang dimiliki oleh  laki-laki muslim.   Muslimah, menurut kacamata  mereka adalah kelompok perempuan yang  terjebak diantara kehidupan sumur, dapur dan tempat tidur, seraya berpuas diri bahwa hal-hal tersebut juga memiliki dimensi ibadah yang memiliki reward sama tinggi.  Konteks pemisahan mutlak  domestik publik atau bahkan upaya untuk membenturkan keduanya menjadi agenda yang selama ini menjadikan logika-logika feminisme menjadi seolah-oleh benar ketika berhadapan dengan komunitas muslimah.  Banyak aktivis kesetaraan gender yang  bersuara keras bahwa agama (baca : Islam) menjadi salah satu penyebab utama dari lemahnya akses publik perempuan dan  lemahnya posisi tawar perempuan dalam relasi gender di masyarakat yang membawa dampak pada maraknya aksi-aksi tindak asusila dan kekerasan terhadap perempuan dewasa ini.   

            Satu pertanyaan mendasar yang ingin saya kupas dalam tulisan ini adalah apakah memang domestik dan publik adalah dua dunia yang telah sedemikian rupa terbelah  bahkan  kemudian  saling kita benturkan  untuk kepentingan pembenaran teori atau pengabsahan sebuah penghakiman?  Dunia publik, menurut beberapa referensi yang saya rujuk adalah sebuah dunia lapang nan luas yang berkaitan erat dengan permasalahan-permasalahan kemasyarakatan, berkaitan dengan dinamika perubahan masyarakat, dunia kerja yang menantang kreativitas, imajinasi dan logika pemikiran yang cerdas.  Ia identik dengan sebuah ruang rapat yang hingar dan panas, sebuah tempat kerja  yang dinamis dan penuh kesibukan, jalanan yang riuh dan macet, dan sebagainya dan sebagainya.  Sedangkan dunia domestik identik dengan kenyamanan sebuah rumah mungil, dengan aneka macam resep masakan dan seperangkat peralatan dapur, botol susu, setumpuk cucian kotor, sprei setengah kering, setrikaan yang menggunung..ia sebuah dunia yang sungguh-sungguh rutin, hanya membutuhkan kerja otot…tanpa kreativitas, tanpa proses imajinasi tanpa sentuhan kecerdasan sama sekali.  Dengan kata yang lebih sederhana  publik itu menantang, mencerdaskan sedangkan domestik itu kumuh, rendah dan sangat jumud.  Nah,…lho dengan tingkat pemahaman yang demikian wajar saja kalau perempuan (terutama muslimah) yang banyak  diidentikkan dengan pelaku-pelaku peran domestik banyak yang berkacak pinggang (marah) atau bahkan terpekur dan bersembunyi karena diserang sindrom rendah diri .  Pekerjaan menjadi ibu rumah tangga, sama sekali bukan profesi menarik bagi kalangan muslimah muda dan hampir tidak pernah tercantum dalam biodata cita-cita mereka.   Pemahaman yang demikian juga menjadikan rumah menjadi sebuah tempat yang tidak mendapat harga layak di hati banyak orang (laki-laki maupun perempuan). 

            Mengahiri pemisahan publik-domestik barangkali bias menjadi jalan keluar dari belitan permasalahan domestik versus publik  dalam kehidupan masyarakat kita dewasa ini.  Saya ingat bagaimana ibunda Aisyah  R.a, mengajari banyak sahabat  hadist-hadist Rasulullah dari rumah beliau.   Dalam buku Kembang Peradaban yang ditulis oleh Ruht Roded (beliau melakukan penghitungan ilmiah atas berbagai kitab biografis muslim dari abad ke abad) disebutkan bahwa terdapat kurang lebih 1000 sahabat perempuan yang  terlibat dalam  dinamika kehidupan perjuangan Islam pada tahap-tahap awalnya.  Mereka bukan saja berperan dalam kehidupan rumah tangga,  sebab banyak diantara mereka yang terlibat dalam peperangan, perkembangan ilmu dan pengetahuan, politik dan keagamaan dan kemasyarakatan.  Tidak ada yang harus dibenturkan antara kehidupan publik dan domestik dalam kehidupan seorang muslimah, sebab bagi seorang muslimah kewajiban untuk berperan dalam kehidupan kewajiban mendidik dan membesarkan anak-anak yang lahir dari rahim mereka di rumah-rumah mereka.   Bagi seorang  laki-laki, memasak makanan bukanlah pekerjaan yang menghinakan. Bukankah Sayidina Umar pernah melakukannya saat  beliau dan istrinya menolong sebuah keluarga yang tengah melahirkan?  Umar, yang merupakan figur laki-laki kuat pada jamannya ( figur sangat publik) itu bahkan tahu bagaimana cara memasak roti agar hasilnya enak..(jangan engkau tuangkan gandumnya, kecuali airnya benar-benar telah mendidih…).   Bahkan Rasullullah menjahit sendiri sandal beliau yang sobek , sesuatu yang menurut ukuran sekarang nampaknya sangat domestik, bukan?

Tentu semuanya harus proposional, disikapi dengan arif dan tanpa pransangka.  Mengembangkan relasi gender sebagai relasi yang saling melengkapi dan saling menolong (..Sebagian kamu adalah penolong sebagaian yang lain…) tentu harus dikembangkan secara bijaksana dalam keluarga-keluarga muslim di masyarakat kita.  Dan yang paling penting adalah memberikan keyakinan hati kepada kaum muslimah bahwa  pekerjaan-pekerjaan “domestik” sama sekali bukan pekerjaan yang membodohkan atau membuat kita menjadi dungu.  Bahkan dalam pekerjaan yang paling domestik sekalipun…menjadi Ibu, melahirkan, mengasuh dan membesarkan anak-anak….adalah pekerjaan-pekerjaan yang menuntut pengetahuan, imajinasi, kreativitas, pengetahuan dan wawasan yang sungguh tak sedikit.  Sebagai ibu, kita harus menjadi psikolog, guru, dokter. konselor, ahli gizi, ataupun  manajer yang handal bagi suami dan anak-anak kita, bukan?.  Yang demikian tentu tuntutan kecerdasannya tak kalah dengan mereka yang berada dalam dimensi publik.  Bagaimana dengan peran dalam kehidupan bermasyarakat bagi seorang muslimah?  Pilihan profesi yang bijak tentu menjadi kunci dari permasalahan ini.  Tidak memilih profesi yang membuat kita harus meninggalkan anak-anak di rumah seharian atau berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan sebab bagi sebuah keluarga Ibu adalah pusat kehangatan., mengatur waktu seefisien mungkin, secerdas mungkin bagi mereka yang mengambil pekerjaan-pekerjaan yang fleksibel; atau bahkan mengaplikasikan pemikiran-pemikiran publiknya melalui jendela kehidupan domestik yang kita miliki.  Ini akan menjadi sesuatu yang menyenangkan sekaligus menantang imajinasi, kecerdasan dan kreativitas bukan?.  So……..Menyelaraskan relasi gender dalam dunia yang tanpa friksi antara peran domestik dan peran publik mudah-mudahan akan melegakan semuanya. 

Komentar bertahan »

Apple Tree

A long time ago, there was a huge apple tree. A little boy loved to come and play around it everyday. He climbed to the tree top, ate the apples, took a nap under the shadow… He loved the tree and the tree loved to play with him. Time went by… the little boy had grown up and he no longer played around the tree everyday.

 

One day, the boy came back to the tree and he looked sad. “Come and play with me,” the tree asked the boy. “I am no longer a kid, I don’t play around trees anymore.” The boy replied, “I want toys. I need money to buy them.” “Sorry, but I don’t have money …but you can pick all my apples and sell them. Then you will have money.” The boy was so excited. He grabbed all the apples on the tree and left happily. The boy never came back after he picked the apples. The tree was sad.

 

One day, the boy returned and the tree was so excited. “Come and play with me” the tree said. “I don’t have time to play. I have to work for my family. We need a house for shelter. Can you help me?” “Sorry, but I don’t have a house. But you can chop off my branches to build your house.” So the boy cut all the branches of the tree and left happily. The tree was glad to see him happy but the boy never came back since then. The tree was again lonely and sad.

 

One hot summer day, the boy returned and the tree was delighted. “Come and play with me!” the tree said. “I am sad and getting old. I want to go sailing to relax myself. Can you give me a boat?” “Use my trunk to build your boat. You can sail far away and be happy.” So the boy cut the tree trunk to make a boat. He went sailing and never showed up for a long time.

 

Finally, the boy returned after he left for so many years. “Sorry, my boy. But I don’t have anything for you anymore. No more for you…” the tree said. “I don’t have teeth to bite” the boy replied. “No more trunk for you to climb on” “I am too old for that now” the boy said. I really can’t give you anything … the only thing left is my dying roots” the tree said with tears. “I don’t need much now, just a place to rest. I am tired after all these years.” The boy replied. “Good! Old tree roots is the best place to lean on and rest. Come, Come sit down with me and rest.” The boy sat down and the tree was glad and smiled with tears…….

 

This is a story for everyone. The tree is our parents. When we were young, we loved to play with Mom and Dad… When we grew up, we left them… only come to them when we need something or when we are in trouble. No matter what, parents will always be there and give everything they can to make you happy. You may think the boy is cruel to the tree but that is how all of us are treating our parents. So….let’s  love our parents, no matter where they are.

Komentar bertahan »

In My daughter Eyes

I see happiness,

Something beautiful I never forgetAya

I see your nice heart

Fill my soul with joy and peace

Thank you Aya, for holding my hands

I never know what would life be without you…….

 

 

 

Komentar bertahan »

Good E Books for Kiddies

I love this site, the owner is so kind and let us use the EBook for our kids.  I have download them and print them for my daughter.  So…enjoy the sites.   http://learningpage.com/free_pages/gallery.html

Good luck.and have a wonderful time

Komentar bertahan »

Belajar Bahasa Inggris Sambil Bernyanyi

Learning English must be fun!!, begitu yang sering saya dengar.  Dan bernyanyi adalah salah satu cara dalam model belajar dengan sistem enjoyful learning.  Lewat situs http://kidsinglish.com ada banyak sampel lagu dalam bentuk mp3 atau clip lagu yagu bagus yang kita bisa unduh. so,…let’s learn and sing!

Komentar bertahan »

Situs belajar bahasa Inggris OK

Ayah-Bunda mencari sumber belajar bahasa Inggris yang bagus untuk ananda ? Masuklah ke http://www.enchantedlearning.com, Insya Allah banyak sumber belajar opensources yang bisa diunduh di sana.  Ada beragam kid dictionary yang bergambar cantik dan aneka macam lembar kerja yang menarik…Selamat menikmati, mudah-mudahan terinspiarsi…….

Komentar bertahan »