Arsip untuk Perempuan

Sudarmi ke Negri Mimpi

antrian tkw di bandaraSuatu pagi di kantor Imigrasi, Surabaya.  Saya tengah mengurus paspor bersama teman-teman.  Ini adalah pengalaman pertama  mengurus paspor dalam hidup saya.  Kantor Imigrasi yang terletak di daerah Waru itu setiap hari saya lewati, tapi saya tidak pernah membayangkan bahwa suasana kantor di bagian belakang begitu hiruk pikuk dan ramainya setiap hari.  Banyak orang antre untuk pergi ke luar negeri.  Entah kebetulan atau tidak, selama 3 hari saya mengurus paspor, saya selalu bareng dengan rombongan-rombonga wanita berseragam kaos, bercelana jeans, berambut cepak yang datang dipandu oleh taoke berkacamata tebal.  Saya kemudian baru tahu bahwa mereka adalah calon-calon pahlawan devisa bangsa…..para TKW kita.  Nah, saat nunggu wawancara saya sempat berkenalan dengan salah satu dari mereka.

Duduk di samping saya, seorang gadis mungil cantik berambut cepak..masih sangat muda.  Namanya Sudarmi, lulus SMP dari Bojonegoro.  Ia mau ke Taiwan, karena ajakan buleknya yang sudah pernah ke sana.  Rencananya Sudarmi akan bekerja di rumah tangga (jadi pembantu,…eh bukan house keeper maksudnya).  Ia tidak harus membayar mahal untuk ke sana, karena ia sudah menandatangani perjanjian dengan PT (begitu Darmi menyebut PJTKInya) bahwa selama satu  tahun PT akan memotong gajinya lima puluh persen sebagai kompensasi biaya pendidikan, pengurusan dokumen dan sebagainya.  Darmi memiliki masa kontrak dua tahun, nanti kalau dinilai bagus ia bisa memperpanjang kontrak.  Menurut Darmi, ia tidak mungkin melanjutkan sekolah karena orang tuanya hanya buruh tani di kampung.  Dengan pergi ke Taiwan ia berharap bisa membawa uang 100 juta dua tahun lagi.  Darmi ingin uang itu bisa untuk membeli sawah.    

Sebelum saya berdiri untuk memenuhi panggilan wawancara dari pengeras suara, saya sempatkan berdoa untuknya…”Mbak Darmi mudah-mudahan selamat sampai di Taiwan, ya….mendapat majikan yang baik, bisa belajar banyak, bisa menabung, dan hasil kerjanya nanti berkah untuk keluarga”.  “Amin…amin…terima kasih, Bu” katanya tersenyum senang.  Sudarrmi, belum genap 18 tahun umurnya, saya tidak tahu dokumennya asli atau palsu, ia sangat pemberani…menyongsong masa depannya pergi ke negri mimpi.

Sumber gambar : www.panyingkul.com/rssview.php?id=451

Komentar bertahan »

Domestik versus Publik

       Satu agenda yang senantiasa menjadi bulan-bulanan kelompok feminisme dalam menghakimi  rendahnya kemampuan kompetitif muslimah dalam memberikan kontribusi bagi kehidupan masyarakat adalah dominannya beban  kehidupan domestik yang  harus dipikul oleh muslimah  yang tidak seimbang dengan  luasnya akses publik yang dimiliki oleh  laki-laki muslim.   Muslimah, menurut kacamata  mereka adalah kelompok perempuan yang  terjebak diantara kehidupan sumur, dapur dan tempat tidur, seraya berpuas diri bahwa hal-hal tersebut juga memiliki dimensi ibadah yang memiliki reward sama tinggi.  Konteks pemisahan mutlak  domestik publik atau bahkan upaya untuk membenturkan keduanya menjadi agenda yang selama ini menjadikan logika-logika feminisme menjadi seolah-oleh benar ketika berhadapan dengan komunitas muslimah.  Banyak aktivis kesetaraan gender yang  bersuara keras bahwa agama (baca : Islam) menjadi salah satu penyebab utama dari lemahnya akses publik perempuan dan  lemahnya posisi tawar perempuan dalam relasi gender di masyarakat yang membawa dampak pada maraknya aksi-aksi tindak asusila dan kekerasan terhadap perempuan dewasa ini.   

            Satu pertanyaan mendasar yang ingin saya kupas dalam tulisan ini adalah apakah memang domestik dan publik adalah dua dunia yang telah sedemikian rupa terbelah  bahkan  kemudian  saling kita benturkan  untuk kepentingan pembenaran teori atau pengabsahan sebuah penghakiman?  Dunia publik, menurut beberapa referensi yang saya rujuk adalah sebuah dunia lapang nan luas yang berkaitan erat dengan permasalahan-permasalahan kemasyarakatan, berkaitan dengan dinamika perubahan masyarakat, dunia kerja yang menantang kreativitas, imajinasi dan logika pemikiran yang cerdas.  Ia identik dengan sebuah ruang rapat yang hingar dan panas, sebuah tempat kerja  yang dinamis dan penuh kesibukan, jalanan yang riuh dan macet, dan sebagainya dan sebagainya.  Sedangkan dunia domestik identik dengan kenyamanan sebuah rumah mungil, dengan aneka macam resep masakan dan seperangkat peralatan dapur, botol susu, setumpuk cucian kotor, sprei setengah kering, setrikaan yang menggunung..ia sebuah dunia yang sungguh-sungguh rutin, hanya membutuhkan kerja otot…tanpa kreativitas, tanpa proses imajinasi tanpa sentuhan kecerdasan sama sekali.  Dengan kata yang lebih sederhana  publik itu menantang, mencerdaskan sedangkan domestik itu kumuh, rendah dan sangat jumud.  Nah,…lho dengan tingkat pemahaman yang demikian wajar saja kalau perempuan (terutama muslimah) yang banyak  diidentikkan dengan pelaku-pelaku peran domestik banyak yang berkacak pinggang (marah) atau bahkan terpekur dan bersembunyi karena diserang sindrom rendah diri .  Pekerjaan menjadi ibu rumah tangga, sama sekali bukan profesi menarik bagi kalangan muslimah muda dan hampir tidak pernah tercantum dalam biodata cita-cita mereka.   Pemahaman yang demikian juga menjadikan rumah menjadi sebuah tempat yang tidak mendapat harga layak di hati banyak orang (laki-laki maupun perempuan). 

            Mengahiri pemisahan publik-domestik barangkali bias menjadi jalan keluar dari belitan permasalahan domestik versus publik  dalam kehidupan masyarakat kita dewasa ini.  Saya ingat bagaimana ibunda Aisyah  R.a, mengajari banyak sahabat  hadist-hadist Rasulullah dari rumah beliau.   Dalam buku Kembang Peradaban yang ditulis oleh Ruht Roded (beliau melakukan penghitungan ilmiah atas berbagai kitab biografis muslim dari abad ke abad) disebutkan bahwa terdapat kurang lebih 1000 sahabat perempuan yang  terlibat dalam  dinamika kehidupan perjuangan Islam pada tahap-tahap awalnya.  Mereka bukan saja berperan dalam kehidupan rumah tangga,  sebab banyak diantara mereka yang terlibat dalam peperangan, perkembangan ilmu dan pengetahuan, politik dan keagamaan dan kemasyarakatan.  Tidak ada yang harus dibenturkan antara kehidupan publik dan domestik dalam kehidupan seorang muslimah, sebab bagi seorang muslimah kewajiban untuk berperan dalam kehidupan kewajiban mendidik dan membesarkan anak-anak yang lahir dari rahim mereka di rumah-rumah mereka.   Bagi seorang  laki-laki, memasak makanan bukanlah pekerjaan yang menghinakan. Bukankah Sayidina Umar pernah melakukannya saat  beliau dan istrinya menolong sebuah keluarga yang tengah melahirkan?  Umar, yang merupakan figur laki-laki kuat pada jamannya ( figur sangat publik) itu bahkan tahu bagaimana cara memasak roti agar hasilnya enak..(jangan engkau tuangkan gandumnya, kecuali airnya benar-benar telah mendidih…).   Bahkan Rasullullah menjahit sendiri sandal beliau yang sobek , sesuatu yang menurut ukuran sekarang nampaknya sangat domestik, bukan?

Tentu semuanya harus proposional, disikapi dengan arif dan tanpa pransangka.  Mengembangkan relasi gender sebagai relasi yang saling melengkapi dan saling menolong (..Sebagian kamu adalah penolong sebagaian yang lain…) tentu harus dikembangkan secara bijaksana dalam keluarga-keluarga muslim di masyarakat kita.  Dan yang paling penting adalah memberikan keyakinan hati kepada kaum muslimah bahwa  pekerjaan-pekerjaan “domestik” sama sekali bukan pekerjaan yang membodohkan atau membuat kita menjadi dungu.  Bahkan dalam pekerjaan yang paling domestik sekalipun…menjadi Ibu, melahirkan, mengasuh dan membesarkan anak-anak….adalah pekerjaan-pekerjaan yang menuntut pengetahuan, imajinasi, kreativitas, pengetahuan dan wawasan yang sungguh tak sedikit.  Sebagai ibu, kita harus menjadi psikolog, guru, dokter. konselor, ahli gizi, ataupun  manajer yang handal bagi suami dan anak-anak kita, bukan?.  Yang demikian tentu tuntutan kecerdasannya tak kalah dengan mereka yang berada dalam dimensi publik.  Bagaimana dengan peran dalam kehidupan bermasyarakat bagi seorang muslimah?  Pilihan profesi yang bijak tentu menjadi kunci dari permasalahan ini.  Tidak memilih profesi yang membuat kita harus meninggalkan anak-anak di rumah seharian atau berminggu-minggu bahkan berbulan-bulan sebab bagi sebuah keluarga Ibu adalah pusat kehangatan., mengatur waktu seefisien mungkin, secerdas mungkin bagi mereka yang mengambil pekerjaan-pekerjaan yang fleksibel; atau bahkan mengaplikasikan pemikiran-pemikiran publiknya melalui jendela kehidupan domestik yang kita miliki.  Ini akan menjadi sesuatu yang menyenangkan sekaligus menantang imajinasi, kecerdasan dan kreativitas bukan?.  So……..Menyelaraskan relasi gender dalam dunia yang tanpa friksi antara peran domestik dan peran publik mudah-mudahan akan melegakan semuanya. 

Komentar bertahan »